Bahaya Latte Factor Terhadap Finansial Yang Tidak Disadari

by Sabda Awal

Saya pernah mencari uang “yang hilang” hingga beberapa bulan. Hilang artinya menguap tanpa tau larinya kemana. Padahal jika saya ingat-ingat, tidak ada tuh pengeluaran yang menguras kantong. Tapi kenapa uang saya habis begitu saja,- tanpa jejak sama sekali.

Apa mungkin dicuri tuyul atau babi ngepet?

Tentu saja tidak. Karena uang saya lenyap dari rekening dan dompet digital, whehehe.

Mungkin anda juga pernah merasakan hal yang sama. Bingung uang habis kemana, tapi kenyataannya tidak ada barang yang dibeli.

Persis seperti kata bijak :

Kita tersandung bukan karena batu yang besar, tapi batu yang kecil. Uang ‘habis’ bukan karena pengeluaran besar, tapi pengeluaran kecil.

Siapa ini

Pengeluaran-pengeluaran kecil yang tak seberapa, tapi bersifat rutin dan jika diakumulasikan menjadi besar. Nah, inilah yang menggerogoti uang kita. Istilah ini dikenal dengan Latte Factor.

Apa itu Latte Factor?

Istilah Latte Factor ini dipopulerkan oleh seorang penulis sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat ,-David Bach.

Latte merujuk pada kebiasaan orang-orang membeli kopi yang tanpa sadar dilakukan setiap hari untuk meningkatkan produktivitas.

apa it latte factor

Misalkan, anda beli kopi Rp 15.000 setiap pagi saat mengawali kerja. Jika diakumulasikan dalam 1 bulan (asumsi) Rp 15.000 x 30 hari = Rp 450.000.

Jika disetahunkan, menjadi Rp 5.400.000!

Istilah Latte Factor ini dipakai pada pengeluaran-pengeluaran kecil sehari-hari yang dilakukan secara rutin sehingga memberikan dampak yang cukup besar dikemudian hari.

Balik lagi ke pengalaman saya diawal tadi. Ternyata setelah saya evaluasi, ternyata uang saya banyak habis untuk pesan makanan GoFood atau GrabFood.

Harga makanan di aplikasi yang jauh lebih mahal dan ditambah ongkos kirim. Padahal saya cuma beli untuk makan malam saja setiap hari.

Eittts, jika ongkir Rp 10.000. Berarti sebulan untuk ongkir makanan saja sudah 30 x Rp 10.000 = Rp 300.000!

Itu baru 1 latte factor yang saya hitung, bagaimana dengan latte factor yang lain? Jika ditotal, maka secara keseluruhan nominalnya pasti tinggi.

Contoh-contoh Latte Factor

Ada banyak contoh latte factor yang tidak disadari. Ini adalah daftar latte factor yang mungkin anda rasakan :

  1. Pesan makanan online
  2. Biaya transfer rekening beda bank
  3. Beli air dalam kemasan botol (mineral atau berperisa)
  4. Rokok
  5. Transportasi online
  6. Kopi
  7. Make up
  8. Skincare

Apakah ada Latte Factor lain yang anda rasakan? Jika ada, silahkan share di kolom komentar untuk mengidentifikasi kebocoran finansial.

Penyebab Latte Factor

Jika diuraikan ada beberapa penyebab mengapa latte factor terjadi.

Menurut Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani, latte factor muncul dengan mudah karena faktor kebiasaan, tekanan sosial, hingga kontrol diri yang lemah.

Iya memang benar.

Seperti lemahnya saya ketika beli makanan secara online karena faktor kebiasaan.

Atau saat melihat iklan skincare yang bertebaran di instagam. Iya, saya pakai skincare. Padahal skincare saya masih banyak, tapi gampang terpengaruh beli skincare dari brand lain. Kontrol diri yang lemah 🙁

Dampak Latte Factor Terhadap Keuangan

Yang dihadapi banyak orang bukan cuma 1, tapi beberapa latte factor sekaligus. Kebiasaan pakai transportasi online, beli air mineral, pesan makanan online, transfer beda bank.

Jika semua diakumulasikan, maka nominalnya akan membuat anda terkejut.

Kopi. Rp 15.000 X 30 hari = Rp 450.000

Makanan online. Rp 10.000 x 30 hari = Rp 300.000

Rokok. Rp 18.000 x 30 hari = Rp 540.000

Transportasi online. Rp 30.000 x 30 hari = Rp 900.000

Transfer beda bank. Rp 6.500 x 10 kali / bulan = Rp 65.000

Jika nominal latte factor ini diakumulasikan maka nilainya cukup fantastis bukan? Jumlahnya mencapai Rp 2.255.000!

Silahkan anda hitung latte factor yang anda lakukan, lalu hitung nilainya.

Dampak yang dirasakan akibat latte factor adalah terganggunya kesehatan finansial. Dengan nilai sebesar itu, sudah berapa persen latte factor menggerogoti gaji anda?

Jika gaji anda Rp 5.000.000, maka 50%-nya cuma habis untuk latte factor saja. Padahal, bisa saja kita mengalokasikan untuk hal lainnya, seperti menabung, investasi atau menyiapkan DP KPR rumah.

Cara Mengatasi Latte Factor

Jika saat ini anda mencari uang yang raib tanpa kejelasan, kemana uang itu habisnya. Maka dapat dipastikan bahwa ada latte factor yang anda lakukan tanpa disadari.

Berikut ini ada 2 langkah mudah untuk mengatasi latte factor agar finansial anda terselamatkan.

Identifikasi Latte Factor

Langkah pertama adalah mencari latte factor itu sendiri, lalu mencatatnya. Kira-kira pengeluaran kecil apa saja yang anda lakukan secara rutin.

Meskipun nominalnya kecil. Tetap dicatat.

Apakah anda perokok? Apakah anda sering pakai transportasi online? Apakah gonta-ganti skincare? Atau beli air mineral yang tak seberapa?

Dengan mengetahui latte factor yang bikin gaji anda habis, maka anda bisa membaut rencana untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan latte factor tersebut.

Cari alternatif dan kontrol diri

Jika anda sudah berhasil menemukan latte factor, maka carikan solusi atau alternatif yang dapat anda lakukan.

Dari beberapa contoh-contoh latte factor diatas, saya akan berikan solusinya.

Jika latte factor anda adalah ojek online, silahkan coba beralih ke transportasi umum yang lebih ramah kantong. Kalau saya sendiri pakai sepeda motor.

Biaya transfer beda bank yang kalau diingat-ingat biayanya cuma Rp 6.500, tapi kalau diakumulasi setahun bisa sampai juta-an lho. Saya pakai aplikasi flip biar bisa transfer gratis beda bank.

Jika anda terbiasa memesan kopi dipagi hari, coba berhemat dengan membuat kopi sendiri. Sama halnya seperti air mineral, dengan membawa air sendiri dari rumah atau kantor.

Jika anda perokok, maka jalan satu-satunya adalah mengurangi secara perlahan.

Kesimpulan

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pengeluaran-pengeluaran kecil tersebut asalkan nominalnya dapat dikendalikan.

Anda boleh beli kopi, pakai transportasi online, atau pesan makanan.

Tapi dikendalikan, jangan sampai anda terlena dan menganggu kesehatan finansial anda.

Sekarang anda sudah bisa mewanti-wanti diri sendiri ketika penghasilan habis entah kemana. Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah latte factor.

Pengeluaran-pengeluaran kecil yang tak seberapa, tapi dilakukan secara rutin hingga jika diakumulasikan nominalnya besar dan fantastis.

Untuk mengatasi latte factor ini silahkan identifikasi latte factor yang anda lakukan lalu cari alternatif dan tingkatkan kontrol diri.

Hello Finance, Make It Fun

Related Posts

Leave a Comment

1 comment

Persentase Harian September 19, 2021 - 9:05 pm

Selain menekan pengeluaran dari latte factor, cara bijak lainnya adalah memulai side hustle disaat belum membutuhkan/saat keuangan masih stabil. Pendapatan side hustle tadi bisa dicompound lagi dengan instrumen investasi yg tepat.

Reply