Belajar Finansial Mudah Kok, Milenial Juga Bisa!

by Sabda Awal
belajar finansial mudah, milenial juga bisa

Saya tak menyangka berada di titik ini. Punya blog, podcast dan kanal youtube yang membahas finansial. Padahal, tahun 2013 yang lalu boro-boro ngerti keuangan, gaji saja cuma numpang lewat di rekening.

Pada tahun 2014, usia saya saat itu 21 tahun. Barulah terpikirkan, sudah setahun kerja kok uangnya tidak kelihatan ya?

Barang yang dibeli tak ada, investasi belum paham, asuransi tak punya, jangan tanya soal dana darurat. Tak kenal tuh apa yang namanya dana darurat!

Saya sadar tidak bisa terus begini, gaji yang diterima tiap bulan lenyap begitu saja tanpa hasil. Akhirnya saya putuskan menabung dan membeli sebidang tanah di kampung yang harganya cukup terjangkau.

Tahun 2015, saya masih buta dengan investasi. Pilihan investasi kembali ke tanah untuk yang ke 2 kalinya.

Wahh,,, tanah kan mahal, mana mungkin saya terus-terusan investasi di intrumen ini.

Barulah saya cari informasi, kemudian saya pertama kali kenal saham tahun 2016. Pencarian investasi berlanjut lagi, 2017 mulai investasi tabungan emas. Tahun 2018 mengenal peer to peer lending dan reksa dana.

Eh tak sebatas itu saja, saya belajar bagaimana mengatur keuangan, mempelajari jenis investasi resiko dan tujuannya, membuat budgeting, menyiapkan dana darurat, membeli asuransi dan sampai sekarang saya tak berhenti belajar keuangan pribadi.

Selama 7 tahun ini saya pelajari sendiri. Baca buku, nonton video, internet tentang finansial lalu mempraktikkannya dalam kehidupan finansial.

Seluruh pengalaman finansial saya terekam dengan baik di blog ini sejak tahun 2017.

Setiap orang bisa kok belajar finansial. Wajib nih, apalagi untuk kalian sebagai milenial seperti saya. Akan saya beri tahu alasannya.

Kamu Milenial Jadi Pusat Perhatian!

Milenial kerap dituding sebagai kelompok generasi yang masa bodoh dengan finansial. Mau tidak mau, pada kenyataannya sih memang begitu.

Bahkan sebuah pernyataan yang sempat viral beberapa waktu lalu, “Milenial tidak mampu beli rumah”.

Wah…wah.. apa yang terjadi dengan milenial?

Terang saja, milenial banyak menghabiskan penghasilan di konsumsi dan enggan berinvestasi.

Belanja terus

Lihat saja bagaimana tren masa kini berkembang. Dompet digital, online shop menjamur, kopi kekinian, makanan fancy, kehidupan influencer instagram yang menggiurkan, pay later dan banyak yang lainnya.

Semua hal itu mendukung untuk menghambur-hamburkan uang. Tapi seharusnya tidak jadi alasan untuk mengabaikan belajar finansial.

Sebagai milenial, justru masalah ini menjadi tantangan besar untuk kita. Kita harus mampu mengendalikan diri dari pengeluaran yang tidak perlu, mulailah menabung dan berinvestasi, belajar dari yang sederhana dengan memanage gaji bulanan.

Kenapa Harus Belajar Finansial?

Setiap orang pasti punya mimpi dan keinginan dalam hidup ini. Sedikit banyaknya mimpi dan keinginan itu melekat aspek biaya didalamnya.

Seperti liburan, beli gadget, pesta ulang tahun, pernikahan, biaya pendidikan anak, hingga menyiapkan pensiun agar hidup dengan nyaman di hari tua.

Butuh biaya? Pasti! Tapi bukan sekedar biaya saja lho.

Dibutuhkan perencanaan keuangan agar biaya yang dikumpulkan efektif dalam menggapai mimpi dan keinginan tersebut.

Misalkan saya sedang menyiapkan liburan yang akan dilaksanakan 1 tahun ke depan, maka saya akan menghitung biaya yang diperlukan untuk liburan tersebut.

Menetapkan nominal yang akan disisihkan setiap bulan agar cashflow saya tak terganggu. Alih-alih ditabung untuk dana liburan, saya menyimpan dana tersebut pada dana reksa pasar uang karena dapat tumbuh sampai dengan 7% lho.

Sampai disini sudah paham kan mengapa finansial itu penting?

Belajar finansial bukan untuk si Kaya!

It’s not how much money you make, but how much money you keep, how hard it works for you, and how many generations you keep it for.

Robert T Kiyosaki

Terjemahan
Bukan seberapa banyak uang yang kamu hasilkan, tapi seberapa banyak uang yang kamu simpan, seberapa “hebat” uang itu bekerja untukmu, dan ke berapa banyak generasi bisa diwariskan.

Pepatah di atas tertanam kuat di kepala saya.

Finansial itu bukan soal seberapa besar penghasilan, tapi seberapa jago kita mengelolanya.

Di dunia nyata, kita sering menemukan orang-orang yang punya penghasilan besar tapi finansial berantakan. Sebaliknya, yang gaji biasa-biasa saja punya ini dan itu.

Belajar finansial wajib untuk semua orang, baik bagi si kaya maupun tidak. Memang, ketika kita mampu memanage keuangan belum tentu jadi kaya. Tapi, paling tidak keuangan jadi tertata sehingga hal-hal yang diinginkan dapat tercapai.

Bingung nih, belajar finansial mulai dari mana?

Sayangnya finansial bukanlah pendidikan yang diajarkan di sekolah formal. Padahal, ketika menjalani hidup selalu ngurusi soal uang.

Aneh.

Kita bisa belajar sendiri dari banyak sumber refrensi, seperti internet, buku atau video. Atau belajar langsung dari para praktisi dengan mengambil jurusan pendidikan.

Untuk kamu yang baru mulai mengelola gaji akan saya berikan petunjuk awal untuk belajar finansial.

1. Budgeting

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah membuat anggaran gaji atau budgeting.

Caranya cukup sederhana, kamu hanya harus menghitung selama sebulan biaya untuk :

  1. Makan
  2. Tempat tinggal
  3. Transportasi
  4. Tagihan
  5. Senang-senang (hangout, entertaintment, nongkrong, jalan-jalan)
  6. Kredit (jika ada)
  7. Kirim ke orangtua
  8. Amal
  9. Investasi
  10. Asuransi
  11. Dana darurat

Alokasi diatas dapat berubah sesuai dengan kebutuhan seseorang. Kamu tinggal menyesuaikan saja.

Masing-masing poin diatas disebut dengan alokasi atau pos. Alokasi makan, alokasi tempat tinggal dan seterusnya.

Contoh budgeting dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Dengan membuat anggaran, kamu bisa mengatur gaji dengan baik, mengontrol pengeluaran bahkan mengeleminasi yang tidak perlu, membuat perencanaan bahkan melakukan evaluasi.

Dengan begini, penghasilan kamu menjadi jelas kemana saja peruntukkannya.

2. Asuransi dan Dana Darurat

Langkah kedua adalah tahapan membuat finansial menjadi aman. Asuransi dan dana darurat adalah 2 alokasi powerful untuk menyelamatkan finansial dari guncangan.

Asuransi dapat dimanfaatkan saat sedang jatuh sakit. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk perawatan karena dicover oleh asuransi. Bahkan, sekarang sudah tersedia asuransi BPJS andalan semua orang.

Dana darurat dapat menyelamatkan kita saat tidak punya penghasilan. Entah itu karena dirumahkan, di PHK atau tipe pekerjaan yang penghasilannya tidak menentu.

Dengan dana darurat, kita masih bisa hidup normal dalam beberapa bulan sampai mendapatkan penghasilan kembali.

3. Investasi

Langkah ketiga, mulailah berinvestasi.

Kita tahu bahwa menabung sudah bukan jamannya lagi karena nilainya semakin tergerus inflasi. Pilihan terbaik pun jatuh kepada investasi.

Apa itu investasi?
Investasi adalah menempatkan dana pada sebuah intrumen dengan harapan dimasa depan memberikan imbal hasil.

Sekarang, investasi semakin mudah dan murah lho!

Mudah, karena cukup via smartphone dan aplikasi sudah bisa investasi online.

Murah, karena sangat terjangkau, seperti tabungan emas mulai Rp 500, reksa dana Rp 10.000, saham Rp 100.000, investasi Peer to Peer Lending dan jenis-jenis investasi lainnya.

Kamu tinggal mempelajari setiap instrumen investasi yang disesuaikan dengan tujuan.

Jangan Berhenti di Kamu!

Saat kamu sudah mampu mengelola keuangan, mulailah untuk menyebarkannya ke orang lain. Membantu para milenial lainnya untuk keluar dari zona “buta” finansial.

Banyak yang bisa kita lakukan. Sekedar berbagi informasi lewat instagram story, ngetweet di twitter, bahkan sampai berdiskusi ringan tentang finansial dengan orang-orang terdekat.

Saya pribadi membagikan finansial lewat tulisan di blog ini, kanal youtube Sabda Awal, dan podcast Finansial Amatir di Anchor.

Yakinkan kepada mereka kalau belajar keuangan pribadi itu penting dan mudah. Dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana.

Jadilah, milenial yang melek finansial!

Related Posts

Leave a Comment

4 comments

Rahman November 10, 2020 - 12:59 pm

Bener banget, investasi dan pengaturan finansial gak cuma untuk yang kaya. Semua orang berhak dan Aku sangat setuju kalo semuanya perlu dimulai dengan Budgeting. Ukur dulu semua kebutuhan dan pemasukan yang kita punya lalu setelah itu tinggal jalanin aja.

Thanks for sharing mas!

Reply
thya November 10, 2020 - 4:31 pm

sepakat sama poin2 nya.. ku juga selalu berusaha untuk budgeting diawal bulan supaya gak kebablasan. Hanya saja aku belum memisahkan antara dana darurat dan tabungan, masih dijadikan satu, masih bingung pembagiannya.. hehe..

Reply
Astriatrianjani November 12, 2020 - 3:24 pm

Penjelasan yang bermanfaat banget mas. Saya nih salah satunya yang buta finansial. Dari dulu pengen belajar tapi nggak ada action mungkin bisa saya coba dengan mengatur uang bulanan dulu. Udah saya scrennshoot biar bisa dicontek di buku

Reply
ainun November 27, 2020 - 6:47 am

aku dulu awal awal kerja juga kok ga terpikirkan buat invest dikit dikit ya, mungkin syndrome pekerja baru.
dan terlambat menurutku, tapi kalau ga dimulai ga bakalan invest invest
memang godaan konsumtif ini ada aja gitu, kalau udah merasa banyak dihamburin kesana, besok besoknya aku ngerem, jadi biar impas gitu
sekarang pelan pelan invest di reksa dan save dikit dikit dana darurat

Reply