Inilah Quarter Life Crisis Yang Saya Rasakan, Apakah Anda Juga?

by Sabda Awal
Inilah Quarter Life Crisis Yang Saya Rasakan, Apakah Anda Juga?

Saat ini saya berusia 25 tahun. Saya mempertanyakan kembali apa saja yang sudah saya lakukan dalam hidup ini serta tujuan yang ingin saya capai. Rasanya amat berat, karena beban ini muncul dari tekanan diri sendiri serta intimidasi berbentuk ekspektasi dari lingkungan.

Haloo teman-teman seperjuangan di luar sana yang berhadapan dengan quarter life crisis!!! *main mata

Quarter Life Crisis adalah kondisi krisis diri seseorang pada usia 25 tahun. Ia mengalami kecemasan, depresi dan frustasi terhadap pilihan dan tujuan hidup

Ada banyak hal yang saya pikirkan, diantaranya :

  • Tindakan masa lalu
  • Finansial
  • Pekerjaan
  • Jodoh
  • Tujuan hidup

Krisis ini datang karena saya berada di fase pertengahan antara remaja dan dewasa. Semua keputusan yang saya ambil untuk masa depan ada pada momen ini. Munculnya “gangguan” dari lingkungan dan keluarga berupa ekspektasi terdahap diri saya.

Seperti, keluarga butuh kebahagiaan, lingkungan yang mendesak “kapan nikah?” dan menuntut saya mencapai sesuatu yang lebih dari ini.

Pada saat yang sama, ada banyak mimpi yang belum tercapai di masa kecil serta lahirnya target-target baru yang ingin dicapai. Begitu juga dengan pekerjaan, apakah saya bisa selamanya seperti ini? Bagaimana dengan finansial saya kedepannya?

Saya juga sering mengatakan kepada diri sendiri, “seandainya saya tidak melakukan A, B, C di masa lalu, pasti saya tidak akan seperti ini.” Lalu saya menyesali semua keputusan-keputusan tersebut.

Begitu juga dengan pilihan masa depan yang penuh misteri. Jalan mana yang saya ambil? Eh, tunggu sebenarnya tujuan hidup saya apa? Lahir, kerja, menikah, membesarkan anak, lalu meninggal? Eh… tunggu, itu… sepertinya ada yang kurang. Hah.

Belum lagi kemunculan sosial media yang penuh racun membuat kita gampang sekali membandingkan keberhasilan diri sendiri dengan orang lain. Munculnya rasa minder dan ketidakpuasan terhadap apa yang telah dicapai.

By the way, karena blog saya bertema finansial,- tentunya finansial juga termasuk bagian dari quarter life crisis. Munculnya tanggung jawab terhadap keluarga,- ini adalah masa yang tepat membahagiakan orangtua yang sudah menyekolahkan saya bukan?

Namun, disaat yang sama, saya butuhkan pula finansial ini untuk mendukung saya dalam mencapai cita-cita, seperti membangun rumah, menabung, berinvestasi, travelling dan menikah.

Disaat yang sama, hati saya memberontak kepada diri sendiri,”Kapan nikah?” (Nikah butuh biaya dan bertanggung jawab menafkahi keluarga ).

Memang sanggup sendiri terus? Terus terang saya sering terkadang merasa kesepian. Ingin belaian kasih sayang dan menyalurkan kasih sayang juga. *sedih dipojokan dan teringat mantan yang sudah tunangan.

5 Aspek Yang Diperhatikan Saat Quarter Life Crisis

Baiklah, setidaknya ada 5 aspek yang menjadi atensi saya, dan anak muda lainnya yang berusia 25 tahun-an. Untuk anda yang belum mencapai usia ini persiapkanlah diri anda.

Sementara, untuk anda ‘senior’ yang sudah melaluinya, berkenan kiranya memberikan saran kepada kami melalui kolom komentar.

1. Tanya Tujuan Hidup

Mau jadi apa saya setelah ini? Apa sebenarnya tujuan hidup saya? Atau bertanya apa tujuan lahir ke dunia ini? Saya tidak ingin semainstream orang-orang.

Kerja, menikah, membangun keluarga, membesarkan anak-anak, lalu menua dan meninggal. Apakah tidak ada tujuan lain selain yang sudah pakem ini?

Tentu saja, tidak berkutat hal-hal duniawi saja. Sisi religius juga turut memberikan dorongan untuk mencapai kedamaian yang hakiki. Beribadah untuk mencapai ridhonya. Istilahnya naik level, dari manusia yang biasa-biasanya saja menjadi ‘terhitung’ di hadapan Allah.

Pernahkah terbesit dipikiran anda ingin bertukar kehidupan dengan hewan? Misal dengan kucing.

“Andai saja aku hidup kayak kamu cing, pasti aku ga perlu lewati hal-hal ‘manusia’seperti ini.”

“Andai saja aku hidup seperti nyamuk, perjalanan hidup yang amat singkat. Selesai, tak perlu ada yang perlu aku kejar. Simpel.”

“Andai saja aku ‘seekor’ amoeba, ga akan berhadapan sama masalah yang menguras emosi, karena amoeba ga punya hati (mungkin saja).”

Saya sendiri pernah berpikir seperti itu. Pemikiran seperti ini adalah hal yang wajar di masa krisis seperempat abad. Kita mempertanyakan kembali tujuan hidup kita.

tujuan hidup

Supaya tidak mainstream, saya sampai sekarang kepikiran untuk bisa hidup di luar negeri, menikah dengan wanita yang punya hobi travelling, lalu mendokumentasikannya di youtube, lalu dimonetize… *eh

Inti dari bagian ini , mempertanyakan mengapa saya lahir ke dunia, apa dan bagaimana yang harus saya lakukan untuk hidup saya.

2. Pekerjaan, Bertahan Atau Resign?

Saya yakin sebagian orang di usia 25 tahun akan memikirkan soal pekerjaan. Meniti karir, mencari pekerjaan lain, resign, atau alih profesi. Mengapa ini terbesit dipikiran? Karena berhubungan dengan tujuan hidup yang ingin dicapai.

Terus terang, pekerjaan saya saat ini amat mendukung menikah, memiliki 2 anak dan hidup sederhana. Semua kebutuhan rumah tangga bisa dicover dari gaji saya yang berstatus sebagai ASN ini.

Bahkan kemampuan memange finansial saya amat baik, terbukti dengan lahirnya blog ini XD.

Jika ditanya, punya apa saja setelah beberapa tahun bekerja? Saya bisa jawab, karena setelah 1 tahun pertama bekerja saya langsung melakukan investasi hingga sekarang. Anda bisa ubek-ubek blog ini, ada investasi saham, reksadana, emas, dan p2p lending.

Kedepannya tentu saya akan tambah produk investasi, seperti farming crowdfunding, properti crowdfunding, equity crowdfunding dan seterusnya, bahkan income dari blog.

resign, alih profesi, atau karir

Lalu, hal krisis apa yang saya rasakan soal pekerjaan?

Saya bekerja sudah 5 tahun, saya merasa lelah sekaligus bosan. Saat saya pulang kerja, saya merasa lelah luar biasa. Padahal dikantor hanya mengerjakan pekerjaan rutin dan didepan komputer saja. Sebenarnya ini adalah indikasi saya sudah jenuh.

Apakah saya harus bertahan pada kondisi seperti ini. Membiarkan saya tidak bahagia? Tentu saja, saya lebih mengutamakan faktor kebahagiaann dalam bekerja.

Saya ingin cari pekerjaan baru, tapi pendidikan saya hanya D1. Saat ini saya sedang mengembangkan skill biar bisa cari sampingan dan persiapan (mungkin) pensiun dini.

Selain itu potensi karir di pegawai negeri ini berbeda dengan swasta. Syarat golongan dan pendidikan diutamakan. Ada puluhan ribu orang yang posisinya sama seperti saya dan mungkin saja bersaing satu sama lain.

Huh, saya tidak ingin ikut berkompetisi. Bahkan saya tidak melanjutkan pendidikan saya sama sekali.

Inti kegundahan saya pada aspek pekerjaan adalah rasa jenuh. Padahal saya termasuk orang yang diandalkan dikantor karena memegang peran penting. Saya “ahli” dibidang IT, aplikasi dan permasalahan proses bisnis sistem aplikasi di kantor. Saya dipercayakan seutuhnya pada bagian tersebut.

Apa yang sebaiknya saya lakukan? Apakah anda pernah pada fase ini?

3. Finansial, Mana Yang Harus Diperioritaskan?

Saya mulai bingung mana yang harus diprioritaskan. Kalau bisa, saya ingin mencapai semua target finansial secara bersamaan.

Sebenarnya saya tidak punya permasalahan di bidang finansial. Seperti yang saya utarakan pada bagian sebelumnya. Hanya saja saya terkendala menentukan prioritas. Ada 3 hal yang saya pertimbangkan : support orangtua, menikah, atau membangun aset & travelling.

Sebenarnya pengabdian saya ke orangtua “sudah selesai”. Orangtua saya  minta dibangunkan rumah dan alhamdulillah sudah selesai dibangun pada Maret 2019 hasil patungan dengan saudara lain.

Sementara, setiap bulan saya tetap mengirim uang ke orangtua. Sama sekali tidak memberatkan sebenarnya, namun hati saya sedikit terusik karena ingin memberikan sesuatu yang lebih.

Terbentur dengan keinginan lainnya yaitu menikah. Pada saat usia 22 tahun, saya pernah minta izin untuk menikah. Cuma karena orangtua saya memandang saya masih terlalu muda plus anak bungsu, tidak semudah itu diizinkan.

Sampai akhirnya saya meperkenalkan seorang wanita ke keluarga pada lebaran tahun lalu. Sayangnya, keluarga satu suara tidak setuju.

Well, saya masih kepikiran untuk menikah… sekarang masih jomblo XD, tapi terbentur dengan…

keinginan membangun aset dan travelling. Entah apa yang memperngaruhi saya, terlalu berambisi membangun passive income sebesar mungkin dan travelling ke luar negeri sesering mungkin. Paling tidak dalam 2 atau 3 tahun mendatang.

Apa yang harus saya prioritaskan? Entahlah, saya ingin melakukan ke 3-nya dalam waktu yang bersamaan.

4. Jodoh

Pertanyaan “kapan nikah” terlalu intimidatif. Benar kan? Kultur kita memiliki nilai tersendiri terhadap menikah. Usia seperempat abad adalah waktu yang tepat menanggalkan status lajang.

Sementara, kalau di luar negeri banyak yang menikah di kepala tiga. Karena mereka memang siap pada usia tersebut. Anda pun mulai terpikir untuk mencari jodoh dan membangun hubungan.

Saya sendiri ingin mencari calon jodoh. Paling telat status lajang ini berakhir dalam 3 tahun ke depan.

Jodoh

Saya itu orangnya pendiam di depan publik, tapi sangat perhatian. Saya suka berdiskusi banyak hal dan juga romantis. Saya suka dengan wanita berhijab yang hobi travelling. *eh ini apa-an sih. Skip…skip…

Barangkali ada blogger atau pembaca yang berminat sama saya. Mana tahu kita jodoh. * eh ini apa lagi??? skip..skip…

Intinya, 3 tahun yang lalu pun keinginan menikah sudah saya sampaikan ke orangtua, sampai sekarang saya masih lajang dan berusaha menjalin hubungan, lalu menikah.

5. Masa Lalu, Disesali atau Dipelajari?

Saya yakin setiap orang jika ditanya, apakah mau mengulang masa lalu? Pasti hampir semua jawabannya iya. Untuk apa? Untuk memperbaiki tindakan bodoh yang telah dilakukan. Saya pun begitu, jika saya mampu mengulang masa lalu, banyak hal yang ingin saya ubah.

Memang hampir selalu kita menyesali apa yang telah terjadi. Namun, menyesalinya pun tidak akan merubah keadaan. Yang dapat kita lakukan adalah menjadikannya pelajaran agar tidak mengambil keputusan yang sama.

Saya sering sekali malu dengan apa-apa yang sudah saya lakukan. Senyum sendiri dengan maksud mengasihani diri sendiri.

Penutup

Kesimpulan dari artikel ini adalah sebuah curhatan. Sesekali saya menuliskan keluar dari tema finansial, tidak apa-apa ya :D.

Ada banyak hal yang membebani saat memasuki usia 25 tahun. Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya. Menyangkut :

  1. Tujuan hidup
  2. Pekerjaan
  3. Finansial
  4. Jodoh
  5. Masa lalu

Silahkan sharing hal apa saja yang anda alami pada momen quarter life crisis di kolom komentar.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Comment

50 comments

Zai July 8, 2019 - 12:21 pm

Kalau masih umur 22 tahun, tapi ngalamin yang kayak gitu. Gimana? Masuk juga Quarter Life Crisis?

Reply
Sabda Awal July 8, 2019 - 3:30 pm

nah, itu udah mulai masuk deh ke quarter life crisis

Reply
Supomo Hanasti July 8, 2019 - 12:31 pm

Mantap mas sharingnya. Terutama urusan finansial memang harus direncanakan dengan baik, kenali produk-produk finansial yang ada dan investasilah sesuai tujuan keuangan. Jangan sampai terjebak investasi bodong karena pengen mencapai target dengan cepat.
Selamat berjuang di quarter life crisis mas.

Reply
Ludyah Annisah July 8, 2019 - 1:03 pm

Antara miris dan ngakak so hard bacanya. Well, saya pun juga pernah mengalaminya. Kendati, didalamnya terdapat banyak drama dan air mata (so pasti). But, this is a real life. Saya mesti realistis dalam memandang segala hal. Tepatnya, sambil mempertanyakan diri sendiri, “apakah saya mampu menjalani/mengusahakan target-target ini?”

Dan, saya bukan tipe orang yang suka memaksakan diri. Lebih tepatnya mungkin, fokus dan jalani saja yang ada saat ini.

Btw, saya punya junior di kampus yang lagi cari jodoh juga. Doi juga ASN. Siapa tahu cocok, hehee

Reply
Sabda Awal July 8, 2019 - 3:31 pm

saya memang nyoba stay cool mbak, coba jalanin aja, tapi kadang suka merenung sendiri hahaha….

wah, boleh deh mbak dikenalin, mana tau jodoh.. kita ga tau jodoh dari mana ya kan, paling ga kita berusaha

Reply
Prima July 8, 2019 - 2:01 pm

Wah ternyata kita sepantaran…saya juga pernah 25 pada masanya

Kalau menurut saya sih, pengen nikah boleh…tapi nggak perlu sampai terobsesi. Bener sih, lingkungan kita akan selalu rajin nanya kapan nikah. Tapi kan nggak asik juga kalau nikah hanya sekedar ‘membungkam’ mereka.

Toh ntar-ntar juga bakal ditanyain, kapan beranak, kapan punya dedek, kapan mantu. Ga kelar-kelar.

Udah template memang hidup mereka seperti itu. Selalu mau tau.

Terkait pekerjaan, kalau dirimu berasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan apalagi berasa apakah ini pekerjaan yang akan saya geluti sampai mati.

Gimana kalau coba tanyakan ini:
1. Apakah pekerjaanku membuatku bertumbuh secara pribadi maupun profesional?
2. Apakah pekerjaanku membuatku bisa berkontribusi lebih?
3. Apakah pekerjaanku sejalan dengan nilai yang aku anut?

Sama halnya dengan blogging. Bisa nggak making money dari ngeblog? Bisa kan. Tapi coba lihat advis para blogger senior yang mengatakan kalau jangan ngeblog kalau tujuannya hanya uang.

See.

Uang tidak akan membuatmu kaya selama jumlah dan kursnya salah anak kuda eh…anak muda

Jadi, kenapa nggak coba gali passion kamu aja. Siapa tahu kamu beruntung, merubah hobi jadi profesi.

Reply
Sabda Awal July 8, 2019 - 3:33 pm

wahhh makasih banyak ‘senior’, ini nasihat ampuh yang bisa saya coba terapin. Bener sih, pertanyaan itu ga akan kelar-kelar, dan akan terus menerus ada.

Gali passion untuk bisa dijadiin profesi, siaap masquee

Reply
Enny Ratnawati July 8, 2019 - 6:03 pm

Hahaha ini tulisan mas Sabda yang paling unik diantara semuanya loh. Saran aku sih lanjutkan pendidikan donk..hahaha biar karirnya terus meningkat.
oh iya, jangan lupa terus bersyukur. hidup aslinya sawang sinawang..melihat orang lain lebih enak dari kita..hihi jadi kudu disyukuri apa yang kita dapat hari ini.
semangat

Reply
Ahmad Zaelani July 8, 2019 - 10:20 pm

Sepertinya saya punya hal – hal yang sama dalam tulisan ini, kadang suka tak yakin dengan tujuan hidup, tapi tetap saja dijalani sampai meninggalkan pekerjaan lama untuk mewujudkan impian, banyak drama yang jusru dari internal keluarga walau perlahan sepertinya banyak orang yang mulai mengerti.

Walau gak begitu mengeri masalah finasial, tapi saat ini saya sudah mulai, nulis – nulis daftar pengeluaran, supaya tahu uang dilarikan kemana saja, mulai nabung juga, walau itu hanya tabungan emas, tapi lumayanlah.. sebenarnya pengen belajar investasi, tapi sih pengen investasi yang cepetlah, minmal 2bulan sekali.. haha

Kalau masalah jodoh, tidak terlalu exicited seperti perempuan2 umur 25an yang setiap hari dijejali sama tontonan pernikahan2 mewah di IG dan berakhir menjadi seorang cinderella akut. Kadang kehidupan cinta dalam bingkai pernikahan itu sangat membingungkan, sepertinya umur 25 menikah itu terlalu cepat untuk menderita begitu pikir saya hahah, tapi tidak bisa dipungkiri banyak juga letak2 kebahagiannya seperti contoh kecilnya pamer kemesraan di sosmed, kadang saya mikir kalau belum dapet penghasilan min 10jt perbulan atau punya budget 50jt, saya agak ragu untuk memulai kisah semacam itu, ini seperti semacam stigma negatif sebenarnya, hahah, dan pada akhirnya saya coba mulai menerima diri sendiri dengan segala kekurangannya, lagi pula hanya cowok minder yang pamer harta untuk mendapatkan cinta yang tak seberapa itu.. dan sepertinya memang kunci jodoh itu sendiri dimulai dari menerima dan menyayangi diri sendiri secara utuh. Mungkin kehidupan saya yang selama ini penuh dengan kebencian mulai perlahan – lahan berubah, ketika mulai menerima diri secara utuh

Ada banyak masa lalu yang saya sesali juga, contohnya seperti mengapa dulu saya tidak usah melanjutkan sekolah saja, dan ikut jadi tukang kayu seperti bapak. Mungkin sekarang ini saya sudah jadi tukang kayu dengan skill dewa, bapak sekarang sudah tua, sepertinya sudah terlambat untuk menginginkan itu.
Saya tak dapat apa2 dari semua penyeselan yang ada, yang terjadi hari ini mungkin adalah yang terbaik yang harus terjadi dan tak ada pilihan lain selain hal ini terjadi.

Reply
Sabda Awal July 9, 2019 - 8:53 am

memang kita harus berdamai dengan diri sendiri dan menerima seutuhnya kalau kita hanyalah orang biasa-biasa aja, saya sendiri nyoba menanamkan stigma itu ke diri sendiri. dan berusaha tegar sekuat tenaga menghadapi bada quarter life crisis.

Makasih sharingnya bro 😀

Reply
iidYanie July 8, 2019 - 10:24 pm

Seriusan ini mas sabda masih 25 tahun? Saya kira udah kepala 3 hihi, klo menurut saya usah hiraukan pertanyaan org ttg “kapan nikah”,blabla, usia segitu masih lebih baik buat menempuh pendidikan dan perbanyak pengalaman bekerja, maaf banget mas bukan menggurui ya *peace ah* 🙂 btw udh lama bgt saya gak berkunjung ke blog ini ya

Reply
Sabda Awal July 9, 2019 - 8:50 am

iya mbak, seriusan saya masih 25, malah orang0-orang bilang saya masih 22 tahun, karena muka tampak lebih muda.

harusnya gitu sih mbak, tiap kali temen nyebar undangan, selalu tanya ke saya “kamu kapan kasih undangan ke aku’. kesel sih sebenarnya, pernikahan kan bukan kompetisi yak.

makasih mbak, bukan menggurui kok, tapi itu nasihat lho

Reply
Hutapea.id July 9, 2019 - 3:15 pm Reply
Aul Howler July 9, 2019 - 5:03 pm

Tos dan peluk dulu senasib sepenanggungan wkwkwkkw

Semangat broooooh!
Esok akan cerahhh

Reply
Niki Yuntari July 9, 2019 - 8:29 pm

Tulisan ini cocok banget buat saya, hehe. Makasih sudah sharing kegalauan ini.
Sebenarnya, sudah dua tahun belakangan, saya memikirkan poin-poin yang dibahas di atas. Sekarang, saya jadi lebih sering bertanya pada diri sendiri tentang apa sih sebenarnya tujuan saya hidup. Kadang juga ingin balik ke masa lalu. Galau soal jodoh, kerjaan, dan finansial. Tapi kemudian saya sadar bahwa ini adalah proses pendewasaan diri yang mau nggak mau harus saya lewati. Berat, tapi saya mencoba menyikapinya dengan santai, walaupun tetep aja dag dig dug, apakah langkah yang diambil sudah tepat atau belum.
Btw, saya agak sedikit terhibur dengan curhatanmu yang kayaknya pingin banget nikah, hehe. Maap nih, bukannya mau tertawa di atas penderitaan orang, haha. Semoga lekas bertemu jodoh ya, Mas Sabda 🙂

Reply
Sabda Awal July 10, 2019 - 7:21 am

semoga kita mampu menghadapi masa kritis ini. dibilang pengen banget nikah sih ga, tapi karena risih aja kalau ditanya kapan nikah atau sewaktu kawan ngasih undangan, nanya “kamu kapan ngundang aku?”. Paling telat target nikah 3 tahun mendatang

Reply
Ali .k July 10, 2019 - 10:59 am

Semoga dapat jodoh terbaik mas.. amien

Reply
Maschun Sofwan July 10, 2019 - 11:16 am

kalau ane sepertinya sudah lewat masa ini mas, maklum udah kepala 3

Reply
Sahabat Gratisan July 10, 2019 - 11:36 am

Mantap kaka

Reply
Bang Day July 10, 2019 - 1:36 pm

Kemaren liat di twitter artikel ini ranking 1. Keren mbas Sabda

Reply
Sabda Awal July 11, 2019 - 10:15 am

ranking satu gimana mas? saya ga ngerti

Reply
Bang Day July 11, 2019 - 3:21 pm

Jadi di temlen twitter saya ada tampilan artikel populer. Nah yang nomor satu artikel mas sabda ini

Reply
thya July 11, 2019 - 9:49 am

kalau menurutku, mas sabda ini sudah mendapatkan semua yang diinginkan.
bahkan bisa membangunkan rumah untuk orang tua, itu luar biasa banget.

kalau dari kacamata pengamatan saya (eeea), persoalan utama mas sabda ini adalah jodoh yang belum hadir. kalo dari pekerjaan udah oke dan harus disyukuri, banyak orang lain yg berlomba-lomba mau jadi ASN tapi gak bisa. masalah bosan atau jenuh itu hal yang wajar. dimanapun kita bekerja, pasti akan dapati rasa jenuh/ bosan. trus masalah finansial, mas sabda udah ahlinya banget.

ku cuma bisa mendoakan semoga cepat bertemu dengan jodohnya dan orang tua merestui.
atau.. semoga ada blogger yang kesemsem yaa.. icikiwirr.. rajin2 bewe ke blogger2 single. ehehe

Reply
Sabda Awal July 11, 2019 - 10:15 am

Bener juga ya mbak, dimanapun kita bekerja pasti ada masa jenuh,

amiiin, semoga lekas ketemu dengan jodoh saya, udah usaha sejak lama, tinggal ikhtiar aja nih

Reply
Ridsal July 11, 2019 - 1:19 pm

Lihat isi dan komentarnya banyak yang sudah jadi senior nih. Tapi kalau saya masih dalam pekerjaan, rasanya ada aja yang kurang, mungkin efek ‘jenuh’ seperti bang Sabda nih..

Reply
Ismii July 11, 2019 - 2:10 pm

saya pikir kesimpulan dri akhir artikel ini selain curhatan juga sebagai ajang cari jodoh ehh canda yaa hehhee,,
btw saya lagi merasa memasuki fase Quarter Life Crisis, entah saya yng salah mengenali atau bagaimana intinya saya sedang mengalami kegundahan yg kk tuangin di atas, saya masih 20an awal, bru menginjak semester 5 tapi apa yg saya rasain kayak kompilasi dri beberapa sebab-akibat QLC dalam hidup seseorang.. saya juga ingin melakukan beberapa tujuan hidup dalam 1 waktu yg bersamaan atau setidaknya dalam waktu yg berdekatan, prioritas skrang ttp menyelesaikan studi saya, tapi hasrat ingin travelling, bahagiain ortu dan bahkan nikah juga seakan minta disejajarkan dgn prioritas utama saya, mungkin bahagian ortu bisa saya gabungin dgn penyelsaian studi yg tepat waktu dgn hasil yg bagus atau bahkan sdikit lebih cepat krn orang tua mana yang ga senang liat anak mereka lulus yekannn *pikirannaifsaya*
lalu sisanya? mungkin sabar adalah kata kunci pertama yang harus saya pegang, menunggu sedikit waktu untuk mencapai wish list yang saya inginkan
btw lagi kenapa jadi curhat yaa xD maafkeun paduka..
dan terima kasih untuk tulisannya ka Sabda? hehhe salam kenal sebelumnya, hbis baca ini kayak dapt pencerahan buat ngadepinnya, walau ttp labil dehh kayaknya soalnya fase rawan kan yaaa heuheuuu..
sekali lagi makasihh, dan semoga segera mendapatkan jodoh yang terbaik buat kk nya aamiin..

Reply
Sabda Awal July 12, 2019 - 1:56 pm

sebenarnya bukan jodoh aja sih, ke 4 yang lainnya juga cukup menganggu pikiran,

semoga kita sama2 bisa melewati masa krisis ini ya, amiin

btw makasih udah sharing juga ,kenapa malah ciurhat? karena udah nyaman hahah

Reply
Djangkaru Bumi July 11, 2019 - 7:39 pm

Hampir semua orang merasakan hal-hal seperti itu. Sebuah ketakutan dan kecemasan yang biasa. Nasehat guru saya, manusia akan selalu dirundung rasa kekwatiran, entah itu harta maupun kekurangan makan. Dengan terus melangkah maju dan terus bekerja, kecemasan itu akan hilang dengan sendirinya.
Hidup ini memang sebuah misteri dan teka-teki. Tapi percayalah, ada tangan-tangan ajaib yang nanti mengulurkan, datang tidak terguda.

Reply
fakhrezy July 12, 2019 - 7:21 am

aku sudah ngerasain ini 🙂 saat baru lulus kuliah dan mencari pekerjaan yang harus nunggu 2 bln nganggur utk bekerja… smga menginspirasi tulisan ny mas.

Reply
Toni Al-Munawwar July 12, 2019 - 8:08 am

Di fase ini, memang fase tersulit. Di sinilah, kita akan menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Reply
jalan dan makan July 13, 2019 - 9:17 am

berarti saya sebentar lagi nih pak dalam waktu dekat semoga saya bisa melaluinya dengan baik

Reply
Astriatrianjani July 16, 2019 - 7:23 pm

Saya yang baru 21 tahun aja sudah mengalamai gejala krisis sprempat abad itu. Jenuh sama pekerjaan, pengen kejar impian, tapi kepikiran orangtua, udah gitu kalau wanita dikampung umur 20 aja sudah dianggap siap nikah, padahal… Hoax
Saya masih pengen manja-manja sama orangtua dan meraih mimpi sebelum sibuk sama urusan dapur dan kondangan wkwk
Pokoknya saya mantap bilang sama orangtua mau ngejar mimpi dulu.

Reply
Sabda Awal July 17, 2019 - 10:50 am

nah inilah yang dialami, makin nambah umur makin berat nanti, semoga bisa bertahan

Reply
Delonix Vanesta July 17, 2019 - 4:43 pm

Walah aku sedang di life crisis ini. Kena semua

Reply
Sabda Awal July 18, 2019 - 9:56 am

semoga lekas berlalu

Reply
Bang Doel July 18, 2019 - 7:17 am

Alhamdulillah masa-masa itu sudah saya lewati mas. Ya sempat juga sih sampe insomnia gara-gara kepikiran besok saya mau ngapain, nanti saya nikah sama siapa, bisa ngasih nafkah enggak, bisa punya keturunan enggak, dan lain-lain yang mungkin sebetulnya tak perlu dipikirkan terlalu mendalam.

Setelah terlewati, satu-satunya sisa dari krisis tersebut adalah pikiran tentang masa lalu. Pengin rasanya kalau punya mesin waktunya Doraemon atau Avengers buat kembali ke masa lalu dan MENAMPAR saya yang ada disana agar jangan melakukan hal-hal yang bodoh. Tapi ‘kan alat-alat itu enggak ada 😀

Reply
Sabda Awal July 18, 2019 - 9:58 am

Malah yang saya pikirkan dengan dalam itu mengenai inti hidup ini mas, kalau jodoh urutan ke 2 sih. saya lebih memikirkan inti kehidupan ini aja.

saya juga kalau bisa balik ke masa lalu bakal nampar diri saya yang lama

Reply
Annisa Diandari July 22, 2019 - 11:14 pm

Aku udah masuk umur 30 masih juga mengalami beberapa hal ini. Kayaknya kalo buat aku udah bukan “quarter life crisis” lagi ya namanya 😀

Reply
Sabda Awal July 23, 2019 - 11:51 am

30 tahun itu umur atas masa QLC mbak, hehe

Reply
Farida Pane July 23, 2019 - 11:42 am

waktu aku umur segitu, kayaknya udah banyak krisis teratasi, ya. udah nikah, udah lulus kuliah, udah ada yang bayarin hidup walau pas2an. tapi soal tujuan hidup, iya, jadi banting setir waktu itu.

Reply
Sabda Awal July 23, 2019 - 11:50 am

wah hebat kalau gitu mas, kalau saya masih berkutat dengan mimpi-mimpi

Reply
Riza Alhusna August 2, 2019 - 5:29 pm

Baca tulisan lu gw bisa ambil kesimpulan: lu jenuh dengan kerjaan.

Itu jawabannya.

Cuman lu PNS, beda sama gw yang swasta. Kalo jenuh tinggal cari kerja di tempat lain dan resign dari perusahaan lama. Coba deh lu sekali-kali beli tiket kemana gitu. Terus liburan deh. Gw kalo udah jenuh kerja biasanya gw piknik dadakan. Kadang gw nginep di hotel, gegoleran doang. Itu kadang manjur. Kalo gak manjur ya pergi main. Kadang hidup itu butuh hiburan, biar gak setres.

Silakan dicoba, semoga bermanpaat.

Reply
Sabda Awal August 11, 2019 - 2:12 pm

nih barusan dicoba minggu lalu habiskan 9 hari di negara lain, bener sih kayaknya memang cuma butuh liburan aja. :D.

udah siap buat balik ngantor lagi

Reply
Lala August 9, 2019 - 11:16 am

Saya juga pernah mengalami semacam quarter life crisis, setelah lulus kuliah, belum usia 25 padahal. Sekarang kadang masih bingung juga kalau ditanya kapan nikah, haha. Kalau soal jodoh yang belum ketemu menurut saya karena kita masih dikasih waktu buat berbenah. Kalau soal masa lalu, kita tidak pernah bisa mengapa-apakan masa lalu. Mau kita pikirin, kita cuekin atau kita sesali, hasilnya tetap sama, masa lalu tetap seperti itu 🙂

Reply
Sabda Awal August 11, 2019 - 2:03 pm

bisa jadi ya mbak, jodoh belum datang karena kita dikasih waktu untuk berbenah diri. Benar sih masa lalau ga bisa diapa-apain lagi, yang bisa kita lakukan hanya belajar darinya

Reply
Zaki August 30, 2019 - 8:51 am

Emang perlu banyak2 kontemplasi sih buat ngejawab pertanyaan2 di masa2 quarter life crisis. Dan menurut saya quarter life crisis ga selalu muncul pas usia kita 25 tahun. Kadang yang usia nya 30 an pun masih mempertanyakan hal2 tersebut…

Reply
Sandra Hamidah August 30, 2019 - 10:10 am

Setuju mas, saya pernah ngalamin masa2 pahit life quarter crisis itu dan saya tidak menyesal malah semakin kuat dan penuh syukur kepada Tuhan

Reply
Sabda Awal September 1, 2019 - 5:46 pm

benar mbak

Reply
Nita Lana Faera October 1, 2019 - 9:15 am

Ini juga bagian dari keuangan dong, karena keinginan untuk menikah pun juga nggak lepas dari uang. Terlebih untuk laki-laki, pastinya persiapan tabungannya pun juga sebaiknya lebih. Selagi jodohnya masih disimpan Allah, ya nggak ada salahnya juga kalau hasil kerjanya dipakai untuk traveling juga. Nanti kalau udah dikasih jodoh, ya traveling berdua.

Anyway saya pun udah mengalami fase benar2 jenuh bekerja penuh di perusahaan (umur saya pun lebih dari kamu ya, haha…) dan selama 3 tahun belakangan ini lebih memilih jadi private teacher aja, sembari nulis2 blog gini.

Reply
Sabda Awal October 2, 2019 - 9:43 pm

wahhh makasih ya mbak, ada suntikan semangat dari komentarnya. sementara travelling sendiri dulu. nanti dikemudian hari bisa travel sama pasangan

Reply