Meski Sudah Berinvestasi Tapi Masih Merasa Biasa Saja, Coba Bandingkan Dengan Hal-Hal Ini

by Sabda Awal
Mampu Berinvestasi, Maka Bersyukurlah

Berbicara soal privelege, mampu berinventasi juga termasuk privelege (keistimewaan) lho! Tulisan ini terinspirasi dari twitter yang di tweet oleh entah siapa (saya lupa) yang membuka pola pikir saya.

Dulu saya pikir setiap orang yang sudah bekerja pasti bisa berinvestasi, minimal Rp 100.000 per bulan. Masak Rp 100.000 saja tidak bisa? Bahkan saya membuat tulisan pertama saya dengan judul empat tahun bekerja sudah punya apa?

Orang yang bergaji kecil pun harusnya mampu berinvestasi, meskipun hanya di tabungan emas senilai 0,01 gram atau beli reksadana mulai dari Rp 10.000.

Itu dulu. Pemikiran dulu.

Sekarang saya sadar bahwa tidak semua orang bisa berinvestasi. Baik itu karena alasan tingkat pendidikan, pengetahuan, penghasilan, kondisi bahkan gaya hidup.

Yang paling disesalkan ketika seseorang tidak berinvestasi karena alasan terakhir,- karena gaya hidup. Jangan sampai kita termasuk kategori ini.

Semoga saja!

Saya bersyukur bisa berinvestasi sejak satu tahun pertama setelah bekerja. Memiliki profesi sebagai ASN yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Meskipun pada kenyataannya keluarga saya bukan orang berada,-kategori sederhana pun saya ragu menyebutnya. Bayangkan dari 7 bersaudara, hanya 2 anak terakhir yang bisa kuliah setelah keluarga menguras keringat darah. Sisanya, saudara lainnya hanyalah tamatan SD dan SMP.

Eh jadi melow.

Kini saya bersyukur bisa berinvestasi, mengatur budgeting, mencoba berbagai jenis investasi, bahkan menuliskannya di blog ini dengan harapan bisa dijadikan refrensi bagi pemula/awam.

Ada kondisi dimana seseorang tidak bisa berinvestasi meskipun dari nominal gaji mendukung, tapi sayangnya kondisilah yang tidak mengizinkan. Adapula yang memang karena gajinya pas-pasan.

Berikut ini, 4 hal yang membuat harusnya anda bersyukur jika sudah bisa berinvestasi.

1. Tidak Menjadi Tulang Punggung

Dibanyak realita, menjadi anak sulung yang terlahir di keluarga kurang mampu mengharuskan mereka membiayai rumah dan diri sendiri. Setengah dari gajinya diberikan untuk keluarga.

Untuk biaya hidup sehari-hari dan bayar uang sekolah adik-adiknya.

Bagaimana mau berinvestasi jika kondisi sudah begini? Jangankan investasi, untuk makan sendiri saja harus berhemat. Maka, layaknya kita bersyukur jika tidak menjadi anak yang mengambil posisi sebagai tulang punggung keluarga.

Stress yang dihadapi anak si tulang punggung keluarga

Saya bersyukur tidak menjadi tulung punggung. Terlahir sebagai anak bungsu dengan pendidikan dan pekerjaan yang lumayan membuat saya berkesempatan berinvestasi. Kini ekonomi di keluarga saya membaik.

Jika anda bukan tulang punggung yang pusing setiap pertengahan bulan karena orangtua minta kiriman. Maka bersyukurlah. Maka selayaknya anda bisa berinvestasi.

2. Tidak Berpenghasilan Pas-Pasan

Pernahkan anda mencari di internet tentang cara investasi untuk gaji kecil? Banyak orang diluar sana melakukannya karena bingung mau investasi apa dengan penghasilan pas-pasan.

Bersyukurlah jika anda bisa beli saham Rp 2.000.000/bulan atau mencicil properti ketiga diusia sekarang ini karena penghasilan yang lumayan.

Saya bersyukur bisa berinvestasi rutin setiap bulan. Bukan dengan investasi yang bernilai seratus ribuan, tapi 1 atau 3 juta-an/bulan.

uang pas-pasan
Akhir bulan selalu defisit

Meskipun gaji masih dibawah sepuluh juta perbulan, tapi penghasilan saya tidak pas-pasan. Apalagi tinggal di kota kecil dengan minimnya pengeluaran, investasi pun semakin besar.

Orang yang berpenghasilan pas-pasan bingung mau investasi apa. Meskipun ada investasi seratus ribu, tapi kalau seratus ribu per bulan malah menghambat semangat berinvestasi karena nilainya yang tak seberapa. Setahun baru terkumpul 1,2 juta.

Sekali lagi bersyukurlah karena penghasilan anda tidak pas-pasan sehingga bisa investasi.

3. Tidak di Lingkungan yang Toxic

Apa yang tidak lebih menyakitkan saat penghasilan lebih dari cukup tapi berada di lingkungan yang toxic? Bukan berarti orang sekitar buruk, tapi gaya hidup yang hedon membuat keenakan menghamburkan uang.

Apa yang lebih iri saat lingkungan berlomba-lomba dengan barang branded?

Tiap tingkat penghasilan, beda level hedonnya. Yaa,,, kalau merefleksikan saya sendiri, palingan lingkungan saya cuma mampu bergaya dengan gawai harga sepuluh juta-an dan jam tangan dinilai 5 juta-an. Sesuai dengan tingkat penghasilan kami.

Atau kondisi dimana sering hangout, makan di resto atau cafe sampai menelan 50% penghasilan setiap bulan?

Sekali lagi karena gaya hidup yang menguras uang sehingga investasi terabaikan.

Belanja teross

Saya bersyukur lahir dari keluarga kurang berada yang sudah terbiasa dengan kesederhanaan. Beli kaos harga Rp 50.000 per potong pun tak masalah bagi saya.

Saya tidak pernah terpengaruh dengan lingkungan. Meskipun sebenarnya lingkungan saya bukanlah orang-orang yang suka berhedon ria. Karena penghasilan kami tidak besar.

Bersyukurlah jika anda tidak berada dilingkungan toxic. Kalaupun iya dan anda mampu bertahan, maka sisihkanlah penghasilan untuk berinvestasi.

4. Tidak Buta Ilmu Investasi

Sekarang ilmu itu mudah didapatkan. Tinggal ketikkan sesuatu di google, kita akan mendapatkan banyak refrensi. Begitu juga dengan investasi yang tersedia di internet dan tentunya di BlogSabda ini, hehehe…

Pada beberapa kesempatan, saya menemukan di kolom komentar bahwa pembaca saya baru mengetahui jenis investasi yang saya bahas. Dilain kesempatan, teman-teman saya bertanya tentang jenis-jenis investasi kepada saya.

Flashback beberapa tahun yang lalu, posisi saya sama seperti mereka. Tidak punya ilmu investasi,- tidak tahu jenis investasi sektor non-riil. Tapi belajar, membaca di internet dan beli buku membuka wawasan saya.

Tambah wawasan dengan membaca

Saya bersyukur punya ilmu investasi karena konsisten terus belajar. Mulai dari jenis, cara kerja, resiko, biaya, profit dan lain-lain pada sebuah jenis investasi. Saya sadar pengetahuan saya masih terbatas, masih banyak yang harus saya baca dan cari tahu.

Maka bersyukurlah saat anda sudah punya ilmu investasi. Punya pengetahuan yang lebih dari sekedar investasi properti dan emas saja. Lebih dari itu, anda tahu reksadana, saham, p2p lending, property crowdfunding dan lain sebagainya.

Penutup

Saat anda mampu berinvestasi, maka pertimbangkanlah bahwa kondisi ini keistimewaan karena tidak semua orang mampu melakukannya. Ini privelege!

Anda bukan tulang punggung, penghasilan lebih dari cukup, tidak berada di lingkungan yang toxic dan punya ilmu investasi. Bersyukurlah.

Terakhir saya mau bilang tagline blog ini, Hello Finance Make it Fun. Selamat berinvestasi!

Related Posts

Leave a Comment

17 comments

Reffi February 28, 2020 - 9:12 am

Saya anak sulung dengan ayah sudah pensiun, beberapa hal saya tanggung, tapi alhamdulillah bisa kerja freelance jadi bisa investasi dan nabung. Prinsip saya sekecil apapun gaji, sisihkan minimal 100 ribu untuk investasi dan dana darurat. Terasa manfaatnya karena bisa traveling dari tabungan dan bisa membantu ortu pas mendadak kebutuhan. Semangat.

Reply
alfan ismail February 28, 2020 - 9:55 am

DEG!!!!!! saya baru kepikiran mas beneran,,saya mau coba yang kecil dulu lah berinfestasinya

Reply
SARIF HIDAYAT February 28, 2020 - 12:42 pm

Alhamdulillah mantap betul, saya juga sangat bersyukur sekali bisa mengawali investasi pada 2016. Heheh Sampai sekarang masih rutin berinvestasi. Walaupun blm di invest pada saham atau pasar modal, saya uda investasi di Emas, dalam waktu dekat Agustus mendatang semoga hasil investasi emas yg sudah saya kumpulkan sejak 4 tahun lalu bisa untuk membangun rumah.

Reply
Heniajaa February 28, 2020 - 2:38 pm

Bersyukur ya mas Sabda termasuk salah satu org yg ngerti pentingnya ber investasi, pa lgi lebh dr 1 jt/blnnya, sekarang sy yg mengharuskan ato mewajibkan anak buat ikutan invest krn biaya hidup yg bgitu gede, kalo ga dr muda kapan lagi, kalo udh ketuaan kasian aja, walopun ga ada kt terlambat, tetep aja sedari muda udh membiasakan buat invest apapun itu, apalagi setelah baca tulisannya mas Sabda.. Makin kebuka aja fikirannya

Reply
arenapublik February 28, 2020 - 7:58 pm

Untuk orang yg bisa nabung itu sesuatu banget mas, karena ya maaf. Untuk kondisi skg banyak tergiur pinjaman aja nih hhaha jadi ya gitu deh

Reply
ainun February 29, 2020 - 10:35 am

saya memulai dari yang nominal kecil-kecil dulu & sesuai dengan kemampuan
memang perlu niat untuk memulali investasi

Reply
Rinjani Melda February 29, 2020 - 6:28 pm

Aku masih kuliah s2 , baru nikah pula, gak bisa kerja karena jam kuliah padet. Aku berharap tulisan akan menjadi investasiku dunia dan akhirat.

Reply
Ananda Anugrah Ramadhan February 29, 2020 - 10:31 pm

Saya baru baru ini udah mulai berinvestasi. Tapi investnya di reksadana belum berani kalau invest di saham.

Reply
CREAMENO March 1, 2020 - 10:36 am

Saya termasuk beruntung karena sudah berinvestasi sejak beberapa tahun kebelakang, meski agak menyesal juga kenapa nggak memulainya dari 15 tahun silam πŸ˜€ dan saya pun senang karena di-era digital sekarang, semakin mudah untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan ~

Semoga semakin banyak teman-teman pembaca yang aware kalau investasi itu penting, dan berharap teman-teman lainnya bisa mendapatkan kemudahan dalam belajar mengenai investasi salah satunya dari blog mas Sabda ini. Keep sharing and keep inspiring ya mas πŸ™‚

Reply
Einid Shandy March 2, 2020 - 10:35 am

Well, tulisan ini menggugah semangatku untuk melakukan perubahan dalam hidupku. Aku juga anak ragil. Tapi, cukup berbeda dengan anak ragil kebanyakan yang sudah aman dari membantu kehidupan keluarga induk (orang tua). Aku harus mebantu kehidupan keluarga induk.

Aku jadi berminat untuk belajar tentang investasi, adakah tempat kursus atau harus mulai dari mana jika tidak memiliki dasar.

Karena aku percaya sekali, setiap kita ingin melakukan segala sesuatu, kita harus memiliki “dasar”. Teori dan diimbangi dengan praktek.

Boleh Kak sharing bagaimana memulai investasi untuk pemula? Entah dari teorinya dulu atau menginformasikan kita harus belajar di mana untuk belajar investasi.

Terima kasih.

Reply
Rahmat Fadhli March 2, 2020 - 10:58 pm

Menarik artikelnya. Terkait investasi saya sendiri sudah memulainya sejak jadi pengangguran pasca lulus (kurang lebih 3 tahun lalu). Yaa cuma 10rb per minggu, anggap saja potongan uang makan “enak”. Lama kelamaan menjadi kebiasa dan sampai saat ini sudah bekerja. Meskipun agak buta ilmu investasi, jadi masih agak meraba2 melakukan tindakan apa.

Reply
iidYanie March 5, 2020 - 10:49 pm

Saya baru melek sama yang namanya investasi ketika sudah menikah dan punya anak. Memang telat tapi buat apa disesali, sekarang jadi lebih giat berinvestasi buat masa depan anak aja πŸ™‚

Reply
Sabda Awal March 9, 2020 - 9:41 am

Benar sekali mbak, ga ada waktu yg telat untuk investasi, semangat

Reply
Greatnesia March 6, 2020 - 2:53 pm

Mas Sabda, Request review investasi di crowdfunding pertanian dong Mas, Kayak igrow dan tanifund itu πŸ˜€

Reply
Sabda Awal March 9, 2020 - 9:40 am

Meluncur, akan segera publikasi crowdfunging pertanian, tapi platform yg berbeda yaitu Tanijoy. Tunggu ya

Reply
Riza Alhusna March 6, 2020 - 4:51 pm

Alhamdulillah, gw anak pertama, tapi gak menjadi tulang punggung. Gw baru sadar investasi setelah setahun kerja gak dapet apa-apa. Untung jaman itu gw langsung sadar dan langsung investasi di reksadana. Terus lama-lama beli emas, terus properti. Sekarang lagi banyak nabung di saham. Karna mau gw pakai sebagai dana pensiun. Jadi gw diemin aja. Setiap dapet deviden juga langsung gw beliin saham lagi gak gw pake. Semoga suatu saat gw gak susah di masa tua.

Buat yang masih muda-muda, nabung woi ! Jangan gonta-ganti hape mulu. Gemes banget gw kalo liat yang kaya gitu. Pengen gw tabok aja rasanya, wkwkwkwkwk

Reply
Sabda Awal March 9, 2020 - 9:43 am

calon-calon orang kaya ini sepertinya, haa

Reply