Pengertian, Cara Kerja, Resiko, dan Legalitas Investasi Peer to Peer Lending Indonesia

by Sabda Awal
Peer to Peer Lending indonesia adalah

Peer to peer lending Indonesia,- Bicara soal industri keuangan tidak akan ada berhentinya. Berevolusi mengikuti kebutuhan masyarakat.

Misalnya, dulu pinjaman online masih tabu, sekarang malah diandalkan saat butuh dana instan. Bahkan, perusahaan pinjaman online ilegal pun bak jamur di musim hujan.

Sampai banyak orang terjebak dengan utang dan kejaran debt collector!

Dulu, hanya lembaga keuangan (bank, koperasi dan sejenisnya) yang bisa meminjamkan uang ke masyarakat. Kalaupun ada yang individual, pasti namanya rentenir, yang bunganya bikin dada sesak.

Ngomongin soal pinjam-meminjam, nah ini ada investasi jenis baru. Eh, bukan baru juga sih, awal mulanya bisnis ini berkembang di Inggris 2005.

Barulah 2010 mulai bermunculan di Indonesia. Namanya adalah peer to peer lending.

Sekarang, masyarakat biasa pun bisa memanjamkan uangnya ke orang lain lewat pihak ke-3. Menariknya, keberadaan pihak ke 3 ini direstui oleh Otoritas Jasa Keuangan alias mendapat izin dan terdaftar.

Karena pihak ke 3 ini berstatus sebagai perusahaan finansial teknologi, Istilah kerennya fintech (fintek).

Istilah yang melekat ke pihak 3 ini macam-macam. Jadi anda jangan bingung. Mereka biasa disebut dengan :

  1. Perusahaan Fintek Lending
  2. Perusahaan Fintech Pendanaan
  3. Platform Peer to Peer Lending / P2P Lending

Masyarakat menyerahkan uang ke Perusahaan Fintek Lending, lalu Perusahaan ini menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

Si Peminjam membayar atas jasa ini (sistem bunga atau bagi hasil). Perusahaan Fintek Lending meneruskan bunga/bagi hasil kembali ke masyarakat.

Nah menarik bukan? Intinya, anda meminjamkan uang / mendanai usaha, lalu anda dapat ‘bagian’ karena sudah meminjamkan uang.

Saya sendiri sudah berkecimpung sebagai Pemberi Dana sejak 2018. Bahkan sudah sempat menikmati penghasilan pasif sebesar Rp 1.000.000/bulan.

Seluruh tulisan Pengalaman saya ada di bawah artikel ini :).

Pengertian Peer to Peer Lending

Saya kutip pengertian P2P Lending dari Otoritas Jasa Keuangan.

Fintech Lending / Fintech Peer-to-Peer Lending (Lending) / Layanan  Pinjam  Meminjam  Uang  Berbasis  Teknologi  Informasi (LPMUBTI) adalah salah  satu  inovasi  pada  bidang  keuangan  dengan  pemanfaatan  teknologi  yang memungkinkan  pemberi  pinjaman  dan  penerima  pinjaman  melakukan  transaksi pinjam  meminjam  tanpa  harus  bertemu  langsung.  Mekanisme  transaksi  pinjam meminjam dilakukan melalui sistem yang telah disediakan oleh Penyelenggara Fintech Lending, baik melalui aplikasi maupun laman website.

Cara Kerja Peer to Peer Lending

Dari pengertian diatas kita ambil kesimpulan bahwa ada 3 pihak yang terlimbat :

  1. Pemberi Pinjaman / Investor / Lender
  2. Penerima Pinjaman / Borrower
  3. Penyelenggara Fintech Lending

Cara kerjanya amat mudah dipahami…

Lender memberikan pinjaman kepada Borrower, lalu borrower mengembalikan pinjaman + bunga / bagi hasil (sebagai imbal jasa) kepada Lender dan segala transaksi serta perjanjian dimediasi oleh Penyelenggara Fintech Lending.

Source : https://www.kenresearch.com/

Imbal jasa ini bisa berbentuk bunga atau bagi hasil tergantung perjanjian. Ada yang konvensional, ada pula yang syariah.

Legalitas Peer to Peer Lending Indonesia

Regulasi penyelenggaraan kegiatan peer to peer lending di Indonesia diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Semua yang terdaftar atau berizin oleh OJK tentunya aman untuk dipilih sebagai tempat berinvestasi. Pilihlah platform yang terpercaya melalui publikasi yang diterbitkan secara rutin oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Anda dapat mencari daftar Penyelenggara Fintech itu pada link berikut ini. Misalkan contoh publikasi dibawah ini.

Publikasi pada situs OJK

Per Maret 2020 ada 161 Perusahaan Fintech Lending yang sudah terdaftar dan berizin, anda bisa langsung cek didaftar ini.

Konvensional dan Syariah

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Investasi peer to peer lending ada yang konvesional atau syariah.

Perbedaannya jelas.

Konvensional pakai sistem bunga.

Syariah pakai akad sesuai dengan prinsip Islam.

Cara mengetahuinya gampang, buka saya daftar perusahaan fintek lending yang ada di OJK, maka langsung kelihatan jenisnya syariah atau konvensional.

p2p lending syariah konvensional
Konvensional dan Syariah

Tenang saja, untuk meyakinkan syariah atau tidak, bisa sekalian cek DSN-MUI nya. Di setiap website platform syariah pasti menampilkan logo MUI.

Resiko dan Mitigasinya

Setiap investasi punya dua sisi,- untung dan rugi.

Sebisa mungkin sebagai investor menghindari kerugian yang mungkin terjadi dengan memahami resiko dan mitigasinya.

Bagian ini cukup penting, karena saya pernah baca thread di twitter tentang seseorang yang menyalahkan Perusahaan Fintech Lending karena proyek yang ia danai tidak berjalan mulus.

Bukan cuma untung yang tidak dapat, bahkan dananya dikembalikan tidak utuh.

Tentu anda tidak ingin mengalami hal yang sama bukan?

Resiko yang mungkin terjadi di investasi peer to peer lending adalah gagal bayar atau terlambat bayar.

Kok bisa?

Ingat, jenis investasi ini adalah pinjam-meminjam. Dana yang anda berikan digunakan oleh peminjam untuk bisnis, bidang usaha, atau personal (non-produktif).

Nah, dana yang ditujukan untuk kebutuhan personal, bisa saja individu tersebut memang kesulitan finansial, sehingga pengembalian pun gagal atau terlambat.

Apalagi bidang usaha, bisa saja usaha yang dijalankan tidak berjalan lancar. Iya khan?

Saya sendiri pernah terlambat bayar. Bahkan saat saya pantau, Perusahaan p2p lending sedang melakukan mediasi ke Peminjam. Pembayaran pun mundur dari jadwal yang ditentukan sampai akhir 2020.

Padahal harusnya selesai di akhir 2019. T_T

Bagaimana menanggulangi resiko gagal atau terlabat bayar?

Umumnya, setiap platform menyediakan mitigasi resiko untuk mengamankan hak-hak investor dalam melakukan pendanaan.

Jelas saja ini dilakukan, kalau sering-sering gagal bayar, tentu investor kabur ke platform lain dong.

Ada 4 hal yang membantu meminimalkan resiko berinvestasi di p2p lending.

1. Nilai TKB90

TKB90 adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech-peer-to-peer (P2P) lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo.

Nilai TKB90 ini dalam bentuk persentase dan selalu diupdate secara berkala. Semakin tinggi nilainya tentu semakin baik, artinya Perusahaan Fintech Lending berhasil menyelesaikan kewajiban dalam waktu 90 hari setelah jatuh tempo.

Bagaimana melihat nilai TKB90? Terpampang nyata pada halaman situs setiap Perusahaan Peer to Peer Lending.

Berikut ini nilai TKB90 dari beberapa platfrom. Data saya ambil pada bulan Maret.

Nilai TKB90 : Akseleran, Asetku, Qazwa, Amartha (kiri ke kanan)

2. Credit Scroing

Bisa dibilang kalau skor kredit ini memberikan petunjuk kepada investor soal informasi si Peminjam Dana. Bisanya credit scoring diwakilkan dengan alfabet : A, B, C, D dan seterusnya.

Semakin ke kanan, resiko dan keuntungan semakin tinggi.

Credit scoring ini dilakukan sendiri oleh pihak Perusahaan Peer to Peer Lending.

Saya sendiri lebih nyaman memilih Peminjam yang di sebelah kiri,- resiko dan keuntungan kecil.

Contoh sistem skor kredit di platform Amartha dibawah ini. Anda dapat melihat alfabet pada setiap pendana.

contoh credit score di amartha

3. Agunan

Agunan atau jaminan ini befungsi untuk melindungi hak Lender ketika Borrower gagal bayar. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tinggal cairkan agunan saja.

Dengan begini, maka dana Lender pun aman, meskipun sebuah jaminan tidak cukup menutupi seluruh dana yang dipinjam.

Contoh agunan yang digunakan oleh platform Akseleran.

Contoh agunan di Akseleran
Contoh agunan pada sebuah proyek di Akseleran

4. Proteksi Asuransi

Ketika Borrower gagal bayar, maka proteksi asuransilah yang digunakan untuk memenuhi kewajiban si Borrower.

Namun perlu diingat, bahwa setiap platform memiliki kebijakan asuransi yang berbeda-beda terkait berapa dana yang dapat dikembalikan dan siapa yang membayar premi.

Misal, platform Koinworks menyediakan asuransi dari pihak lain. Ketika borrower gagal bayar, maka lender akan memperoleh dananya sekian persen sesuai dengan credit score si borrower.

Proteksi asuransi koinworks
Cara kerja asuransi di Koinworks

Berbeda halnya dengan Amartha.

Perusahaan ini menggunakan Jamkrindo sebagai asuransi, sedangkan preminya dibayar oleh Lender sendiri sebesar 1% dari total pendanaan dengan kepastian 80% dana Lender akan dibayarkan Jamkrindo jika Borrower gagal bayar.

Asuransi ini pun bersifat opsional sesuai keinginan Lender.

Tips Investasi di P2P Lending

Sebagai investor yang sudah menjalani investasi ini sebagai sumber pendapatan pasif, saya akan berbagi tips kepada anda.

Ingat, tips P2P Lending ini bersifat opsional. Nasihat saya hanya ada 3 :

  1. Pilih perusahaan p2p lending yang terdaftar di OJK
  2. Pilih Peminjam yang memiliki reputasi baik dari sisi bidang usaha, credit scoring, agunan, dan asuransi
  3. Jangan pernah meletakkan seluruh dana anda pada 1 Peminjam. Lakukan disverifikasi ke banyak Peminjam untuk meminimalkan resiko

Pengalaman Pribadi

Untuk pengalaman pribadi anda dapat membaca artikel dibawah ini. Setiap platform sudah saya ulas secara rinci.

  1. Akhirnya Dapat Rp 1 Juta/Bulan dari Amartha Mikro Fintek
  2. Pengalaman Investasi di Ammana Fintek Syariah
  3. Pengalaman Mengembangkan Dana di Akseleran, Mulai Dari Rp 100.000!
  4. Review Berinvestasi Di Asetku : Mudah, Aman dan Menguntungkan
  5. Investasi Syariah Bidang Pertanian di Tanijoy

Informasi tambahan untuk anda yang menginginkan investasi peer to peer lending syariah yang berkah, anda dapat mengunjungi artikel ini.

8 Daftar Peer to Peer Lending Syariah yang Terdaftar di OJK

Penutup

Setiap platform atau Perusahaan Peer to Peer Lending Indonesia memiliki karakteristik tersendiri terkait sistem, syarat dan ketentuan.

Tulisan ini hanya sebagai pengenalan awal tentang investasi p2p lending. Untuk mengetahui lebih detail, saya sarankan anda langsung mencoba platformnya saja.

Anda dapat membaca tentang investasi ini pada kategori P2P Lending. Selamat Berinvestasi!

Related Posts

Leave a Comment

10 comments

Himawan Sant March 23, 2020 - 7:26 pm

Pahamlah saya setelah membaca detil arrikel mas Sabda ini,sebelumnya bingung apa itu Fintech dan cara menjalankannya gimana.

Nice sharing

Reply
andrieidmedia March 27, 2020 - 8:58 am

Hemmm menarik sih mas untuk dicoba, apalagi semua fasilitas tersebut sudah ada jaminan oleh otoritas jasa keuangan di Indonesia. Jadi kalau mau investasi yang sudah ada label OJK nya bisa dijamin aman dan sehat perusahaannya, tapi ak masih belum paham nanti cara mereka memotong biaya pinjaman kita melalui aplikasi itu gimana, dan resiko jika tidak segera membayar sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan itu dapat apa..

Kalau nonton di film film kan biasanya didatengin sama renternir terus ditagih tagih gitu, sampe ada yang sengit dan berakhir demo. Saya keinget kejadian di jogja beberapa waktu yang lalu antara renternir dengan orang yang meminjam modalnya melalui renternir itu, karena tidak sanggup membayar pada saat itu akhirnya kendaraan yang ia pakai dipaksa mau diambil.

Serem sih kalau ada kejadian kek gitu, bener sih mas biar tau kita harus coba aplikasinya atau langsung minjem lewat aplikasinya.. Kapan kapan deh kucoba dan kubagikan juga pengalamannya ghehehe

Reply
Bang Day March 27, 2020 - 3:50 pm

Trims penjelasanya yang detil dan mudah dicerna mas Sabda.

Belum berani inves beginian, sementara emas aja dulu deh hehe

Reply
Sabda Awal March 30, 2020 - 2:11 pm

Saat begini memang bagusnya emas aja bg

Reply
Aul Howler March 30, 2020 - 12:34 am

denger kata Peer jadi ingat istilah perjurnalan “peer-review” yang artinya orangnya gak saling ketemu tapi bisa saling mengoreksi tulisan satu sama lain

berarti bisa diasumsikan peer to peer lending ini pinjam meminjam nggak saling ketemu juga ya
jarak jauh gitu pake online doang

hmmmm

Reply
Sabda Awal March 30, 2020 - 2:10 pm

betul sekali

Reply
Pengalaman Investasi Syariah Bidang Pertanian di Tanijoy - BlogSabda.com March 30, 2020 - 8:28 pm

[…] p2p lending atau tidak. Karena bisa jadi masuk dalam kategori lain yaitu crowdfunding. Tapi, baik p2p lending ataupun crowdfunding regulasinya diatur oleh […]

Reply